Kisah seputar kos-kosan di Jakarta

 22 Mar 2012

Akhir tahun 2005

Awalnya tidak ada niat untuk merantau ke Jakarta. Ini berawal dari kisah chatting di Yahoo Messanger, ketika itu aku baru lulus D3 sebuah perguruan tinggi swasta di Pekanbaru.

Seperti umumnya lulusan sarjana, ketika sudah selesai, pasti menyebarkan surat lamaran sana-sini, interview sana-sini, rajin baca koran daerah, terutama koran yang terbit hari Sabtu, karena pada hari itu, koran penuh dengan info lowongan kerjaan di berbagai perusahaan.

Satu bulan jadi pengangguran, tidak punya kenalan apalagi senior, maklum angkatan pertama di kampus. Akhirnya aku iseng-iseng chatting di warnet. Ga sengaja meng-add akun YM seorang manajer di Jakarta, trus chatting dengan dia.

ChattingA-es-el plis…

Seperti biasa, aku memperkenalkan diri, baru lulus dan sedang mencari pekerjaan. Pucuk dicinta ulam pun tiba, sang manajer pun menawari pekerjaan. Perusahaan dia adalah kontraktor telekomunikasi, yang kebetulan pas dengan jurusan kuliahku yakni telekomunikasi. Tentu aku senang sekali dan langsung kirim CV lewat email.

Setibanya di rumah, aku berdiskusi dengan orang tua. Aku bilang, aku sudah berusaha cari kerja sana-sini di Pekanbaru, tapi ga ada yang nyangkut alias ga dapat dan kelamaan. Aku juga ga betah jadi pengangguran. Akhirnya aku bilang ke ortu, aku mau kerja di Jakarta. Tentu saja langsung dilarang, alasannya rumah sepi kalo ga ada aku.

Aku ga putus asa, aku pun cari akal supaya disetujui. Semalam suntuk memikirkan caranya, akhirnya aku dapat ide: mau lanjut kuliah S1. Kalau di Pekanbaru, saat itu belum ada kampus yang buka S1 untuk jurusan telekomunikasi. Kampus-kampus yang menyediakan jurusan telekomunikasi umumnya di Jawa, salah satunya di Jakarta.

Akhirnya aku negosiasi dengan ortu, aku bilang dengan ortu kalo aku mau lanjutkan kuliah S1 ke Jakarta. Ortu melihatku yang niat banget mau kuliah, Alhamdulillah akhirnya mereka mengijinkan, dengan catatan aku harus tinggal di rumah saudara (padahal mau kerja juga sekalian).

Dengan modal uang saku seadanya dan restu dari ortu, akhirnya aku pergi merantau. Sesampainya disana, aku tinggal di rumah saudara di daerah Pancoran.

Yang pertama aku kerjakan, cari informasi kampus, kemudian menghubungi manajer yang menawari aku kerja. Ternyata Allah memudahkanku, kampusku berada di daerah Pancoran dan kantorku pun di daerah yang sama. Aku pilih kampus ini karena bisa kuliah sambil kerja, kampus kelas khusus karyawan.

Ternyata tinggal di Jakarta itu ga seindah yang aku bayangkan. Aku benar-benar harus ekstra sabar berbagi dengan saudara aku yang rumahnya sempit. Trus urus KTP Jakarta. Belum lagi harus pintar-pintar membagi waktu antara kerja dan kuliah.

Kejamnya IbukotaKejamnya Ibukota. Hiks…

Tempat kerja aku juga awalnya doang yang menyenangkan, namun makin lama makin nyebelin. Bayangin aja divisi aku dominan cowok. Yang namanya cowok bandel banget, mereka suka gangguin aku, karena status aku masih lajang.

Belum lagi di kampus, aku ambil jurusan teknik, dimana mahasiswanya dominan cowok dan di kelas ceweknya cuma dua orang. Bisa dibayangkan, walaupun mahasiswanya umumnya sudah bekerja, tetep aja pecicilan. Karena ceweknya dua orang di kelas, jadi rebutan mahasiswa-mahasiswa cowok yang masih lajang.

Kerja Senin–Jum’at, sedangkan kuliah Sabtu dan Minggu. Pulang kuliah, teman-teman cowok yang PDKT dengan aku sering ajak aku jalan-jalan. Akhirnya dari semua teman cowok itu, terpilihlah satu yang dekat dengan aku.

Statusnya ga jelas antara pacaran dan teman. Kalo dibilang teman, perhatiannya sangat lebih ke aku. Kalo dibilang pacaran, aku ga pernah mengakui dia jadi pacar aku, padahal dia sudah nembak aku dan aku kasih jawaban ga jelas, karena aku ga ngerti yang namanya pacaran. Pikiran aku sih temanan aja, karena waktu SMA aku sempat ikut pengajian, dalam pengajian itu dibilang pacaran itu haram, yang dihalalkan pernikahan.

Aku jalani aja hubungan tanpa status, karena di Jakarta aku juga butuh teman untuk berbagi. Di kantor ada juga beberapa teman cowok yang PDKT dengan aku, tapi aku ga begitu suka, karena mereka keganjenan banget.

Aku memutuskan kost di Jakarta, karena saudara aku paranoid banget. Saking cemasnya sama aku, sampai-sampai aku ditungguin di kantor, kuatir kalo aku dijahatin orang, maklum aku pendatang baru.

Aku merasa ga nyaman dengan sikap saudara aku yang paranoid dan banyak aturan, trus aku negoisasi dengan ortu untuk dibolehkan ngekos. Akhirnya ortu aku setuju aku ngekos dengan catatan saudara aku mesti tahu alamat kos-kosan aku.

Masa percobaan aku di kantor sudah lewat dan hasilnya kurang memuaskan, karena aku waktu itu menolak job dari kantor untuk mengerjakan project ke luar kota, alasannya aku sedang kuliah.

Kalo job itu aku terima, otomatis kuliah aku terbengkalai, karena job-nya berbulan-bulan. akibatnya atasan aku kecewa, akhirnya dia tidak memperpanjang kontak kerja aku. Ya sudah aku berhenti dan memilih untuk fokus kuliah sambil mencari pekerjaan yang bisa menyesuaikan dengan jadwal kuliah.

Tepat di saat itu, saudara aku makin paranoid dan sekitar bulan November 2005 akhirnya aku memutuskan kost di Jakarta. Aku cari informasi dari temen aku yang kuliah di UI Depok. Mereka menyarankan aku ngekos di daerah UI, selain tempatnya banyak makanan, kos-kosannya juga tidak mahal.

Aku pun datang ke kos-kosannya teman aku dan melihat kamar kostnya. Ternyata kamarnya bagus, fasilitas lengkap dengan kamar mandi, aku hanya bawa baju saja dan harganya juga tidak mahal, hanya Rp 250 ribu/bulan. Aku tinggal di Depok, trus aku cari tempat kursus Linux di kawasan Depok, karena aku lebih berminat Linux dibanding telekomunikasi.

Bersambung :)



Suka ceritanya? Jangan lupa Like-nya :)